Lembaran surat yang kini kubaca, Puluhan pesan yang dulu kujawab angkuh, tak kusangka setiap kata yang kulewatkan menjadi jarak yang tak bisa kupulihkan
Air mata jatuh tanpa permisi, membasahi wajah di detik detik sunyi, saat ia terbaring dengan napas yang menipis, terhubung selang yang menjaga sisa hidupnya
Ada banyak hal yang ingin kutanya banyak kata yang belum sempat ku sampaikan namun suaranya perlahan memudar hilang seperti ditelan waktu yang kejam
rasanya hilang seperti ditampar kenyataan dihantam rasa penyesalan yang datang terlambat terhempas jauh dari apa yang dulu kupikirkan tentang “nanti” yang ternyata tak selalu ada
Benar, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Keras kepala yang dulu membuatku jengkel ternyata menyimpan banyak pelajaran hidup
Kini hanya suara candanya yang tersisa bergema di ingatan yang tak lagi bisa kupeluk. Aku benar benar mengerti bagaimana rasanya kehilangan.
